Senin, 07 Juli 2008

hmm.., akhirnya Dekase bermanfaat juga




Luar biasa, Dekase terbitkan empat kumpulan puisi!



LUAR BIASA! Untuk kali yang pertama di sepanjang sejarah keberadaannya, baru ini kali Dewan Kesenian Semarang (Dekase) berhasil membuktikan manfaat keberadaannya sebagai fasilitator kerja berkesenian, teristimewa seni sastra. Ini terjadi ketika Dekase, di bawah kepemimpinan Marco Marnadi SH, secara mengesankan dan mengejutkan berhasil menerbitkan sekaligus empat buku kumpulan puisi dalam rentang waktu relatif singkat. Hanya satu semester, enam bulan, terhitung sejak Januari 2008.

Kumpulan puisi pertama, yang memperoleh apresiasi bagus dalam skala nasional, adalah sihir Cinta. Kumpulan puisi yang memuat lebih dari seratus puisi terpilih karya penyair utama terpenting di Semarang, Timur Sinar Suprabana. “Buku ini diterbitkan melalui kerjasama dengan Rumah Budaya Gubug Penceng yang selama ini dikelola oleh Timur Sinar Suprabana,” ujar Soekamto, sekretaris Dekase, yang bersama Marco Marnadi mengambil peran terdepan dalam upaya menerbitkan sihir Cinta. “Kumpulan puisi dengan gambar sampul lukisan karya Markaban itu, menurut saya, merupakan salah satu kumpulan puisi yang dicetak dalam format termasuk mewah,” katanya menambahkan. Tetapi, menurut Soekamto yang juga dikenal sebagai aktot teater dan penyair itu, nilai pentingnya bukan terletak pada format mewah itu. “Buku itu menjadi penting karena merupakan wujud nyata dari adanya realisasi proses kerja kreatif berkesusastraan yang dilakukan oleh penyairnya,” tegasnya.

Dalam waktu sebulan sesudah menerbitkan sihir Cinta, melalui kerja sama dengan Rumah Budaya Gubug Penceng dan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Solo, Dekase kembali menerbitkan kumpulan puisi bertajuk langit Semarang. Buku kumpulan puisi yang juga berhias gambar sampul lukisan Markaban itu, sebagaimana dinyatakan oleh Timur Sinar Suprabana, memuat puisi-puisi karya Adin Histeria, Slamet Priyatin, Soekamto, Beno Siang Pamungkas, Handry TM dan Timur Sinar Suprabana. “Ini merupakan kumpulan puisi yang secara eksplisit cukup merepresentasikan macam bagaimana wajah kepenyairan di Semaranglangit Semarang. Mereka selain biasa mempublikasikan karya melalui media massa cetak, juga mewartakan realisasi kerja menyairnya lewat blog yang dikelola secara ptibadi. Artinya, Semarang juga memiliki cukup banyak penyair dengan sajak-sajak memukau yang selama ini memberdayakan dunia maya sebagai media ekspresi,” papar Timur. terhitung sejak paruh dasawarsa delapanpuluh,” ujar Timur. “Kendati demikian, tentu saja bahwa penyair di Semarang sangat bukan hanya kami berenam ini yang patut dicatat dalam peta syair-menyair di kota tanpa identitas jelas ini,” kata Timur mengingatkan. “Masih ada lebih dari tigapuluh penyair di Semarang selain yang puisi-puisinya terhimpun dalam

Bulan Pecah

Menerbitkan sihir Cinta (02/2008) dan disusul kemudian dengan langit Semarang (04/2008), sebagaimana dinyatakan oleh Marco Marnadi, ketua Dekase, hanya merupakan kerja awal. “Sesudah dua kumpulan puisi itu kami kembali menerbitkan kumpulan tunggal puisi dan kumpulan yang memuat sekaligus beberapa karya penyair di Semarang dari generasi terkini,” kata Marco.

Kumpulan yang dimaksud adalah Bulan Pecah terbit Juni 2008 yang memuat lebih dari seratus sajak pilihan karya Soekamto. Menyusul kemudian munculnya Aku Ingin Mengirim Hujan yang terbit awal bulan Juli. “Kumpulan puisi Aku Ingin Mengirim Hujan ini merupakan buku puisi yang memuat karya dari puluhan penyair generasi muda di Semarang,” jelas Marco. “Artinya, Aku Ingin Mengirim Hujan juga merupakan semacam etalase yang memungkinkan masyarakat peminat dan pemerhati sastra, khususnya puisi, untuk lebih mengetahui realitas kepenyairan dari generasi terkini yang ada di Semarang, Ialah generasi yang masih memungkinkan untuk makin berkembang di kemudian hari,” kata Marco menambahkan. “Kumpulan puisi penyair pemula ini terbit dengan melibatkan komunitas pekerja seni Komunitasku yang juga dikelola oleh pencinta seni dari generasi terkini. Anak-anak muda dengan usia di bawah tigapuluh tahun,” tegasnya.

Secara khusus patut pula disebutkan di sini, bahwa Bulan Pecah secara tak terduga menjadi kumpulan sajak yang “lengkap” tidak saja untuk mencermati kepenyairan Soekamto, tetapi juga untuk “menyerap” macam bagaimana pengamat sastra dalam mengapresiasi realitas berkesusastraan di Semarang. Pengantar yang ditulis oleh Agus Maladi Irianto untuk Bulan Pecah, sangat menjelaskan dan bahkan menegaskan; bahwa Semarang memang tak memiliki akar tradisi berkesusastraan yang kuat. Maka Bulan Pecah dan juga tiga buku lain terbitan Dekase, barangkali bisa menjadi awal mula lahir-hadirnya tradisi yang endah dan edhi peni itu. Mengapa tidak? Sebab, sebagaimana yang ditegaskan oleh Triyanto Triwikromo dalam catatan kritis untuk Bulan Pecah, “dunia puisi” bisa juga hadir sebagai “dunia sederhana”. Ialah sebuah dunia yang tak dipercanggih dan diperumit dengan sirkus kata-kata!

Patut di ketengahkan di sini, bahwa kinerja Dekase di bawah pimpinan Marco Marnadi juga memperoleh apresiasi patut dipujikan dari “orang luar”. Setidaknya, sebagaimana diungkap oleh Sunu, ketua Forum Wartawan Provinsi Jawa Tengah, kinerja Dekase di bawah kepemimpinan Marco layak diacungi jempol. “Masalahnya, setelah sanggup menerbitkan, bagaimana mempopulerkan apa yang sudah diterbitkan itu,” ujar Sunu yang juga memprakarsai peluncuran sihir Cinta karya Timur Sinar Suprabana dengan pembicara utama KH Mustofa Bisri (Gus Mus) beberapa waktu lalu..

Kesemua bukti realisasi faedah keberadaan Dekase itu, sebagaimana dinyatakan Soekamto sebagai sekretaris Dekase, akan digulirkan melalui event khusus yang terjadualkan pada hari Jum’at (11/07) mulai jam 19.00 di Teater Arena Taman Budaya Raden Saleh, Jalan Sriwijaya Semarang. Forum terbuka untuk umum secara cuma-cuma. (wiwik-mc-wawasan)

Selasa, 01 Juli 2008

YOYOK GREGET GETARKAN PARIS dan SPANYOL


yoyok bambang priyambodo, penari dan kreator tari utama terpenting semarang yang juga orang nomor satu di sanggar Greget, terpastikan bakal menggetarkan Paris, Perancis dan Zaragoza, Spanyol. ini termungkinkan terjadi karena mas yok, begitu ia biasa dipanggil, terjadualkan tampil di Carnaval Tropical de Paris 2008 dan juga lanjut di Expo Zaragoza Spanyol 2008.
sebagai satusatunya kreator tari di semarang yang biasa melawat ke luar negeri, ini kali mas yok terjadual tampil mulai tanggal 5 sampai dengan 13 Juli 2008.
sepadan dengan basic kreativitasnya, mas yok hendak menampilkan karya garap dan karya klasik (tradisi).

YOKo

Senin, 26 Mei 2008

berdua: MENGGETARKAN yogya

TIMUR SINAR SUPRABANA dan BENO SIANG PAMUNGKAS, Minggu malam, 25 Mei 2008, mulai jam 20.00 hingga menjelang tepat jam 23.00, boleh dikata benar-benar menggetarkan publik penikmat sastra di Yogya. Ini terjadi ketika Timur dan Beno hadir dalam forum Pertunjukan Seni Baca Puisi di Taman Budaya Yogya atas undangan Stodio Pertunjukan Sastra Yogya yang dikelola oleh Mustofa W. Hasyim bersama Hari Leo dan kawan-kawan.
Timur, penyair utama terpenting Semarang saat ini, mengusung sihirCinta , sedangkan Beno menghadirkan Ensiklopedi Kesedihan.
Kedua penyair ini sejak awal memang sudah diprediksi bakal "mengacau" Yogya tidak saja melalui aksi panggung mereka, namun juga lewat sikap tegas dan tangguh dalam mencermati dan mereaksi realitas keindonesiaan kita yang sedang kalangkabutan. dan, benar saja, keduanya sanggup menggetarkan audiens melalui pembacaan puisi mereka ataupun pemikiran mereka yang membanjir pada babak dialog dan diskusi.
Timur dengan tak kenal ampun menyoal dan menghajar realitas semacam ini: Tidak ada satu hal baikpun di Indonesia yang menunjukkan peningkatan. Sebaliknya, tidak ada satu hal burukpun di Indonesia yang dapat ditekan untuk tidak melaju ke titik yang menjadikan masyarakat, bangsa dan negeri ini makin remuk redam.
Beno memapar larik peristiwa yang menghantarkannya melahirkan deret sajak dalam Ensiklopedi Kesedihan dan memang merupakan realitas peristiwa dalam frame besar yang patut membuat siapapun yang berhati nurani dan berakal sehat untuk layak merasa bersedih.
Selain Timur dan Beno, menyempurnakan forum malam itu, hadir juga Yoyok Setara, yang menyanyikan sajak-sajak Beno. Antara lain, Nasionalisme Sebotol Cong Yang.


Selasa, 13 Mei 2008

DARI SANG LINTANG LANANG


SihirCinta Timur Sinar Suprabana


catatan: Sang Lintang Lanang


Negeri macam apa ini, dimana para pemimpinnya lebih bisa menangis ketika menonton Ayat-Ayat Cinta, sementara ketika bertemu dengan para korban Lumpur Lapindo, menghela nafas-pun tidak. Kegelisan semacam inilah yang mendasari seorang Timur Sinar Suprabana melahirkan ‘Sihir Cinta’.

Sihir Cinta ini adalah buku kumpulan puisi terbaru karya Timur. Yang diakui oleh penulisnya, sebagai sebagai usaha untuk ‘mengeja kahanan’. Tak heran, acara peluncurannya di Ruang Serbaguna DPRD Wilayah Jateng ini, diberi judul ‘Gus Mus dan Timur Mengeja Kahanan. Karena memang, acara yang juga didukung KH. Mustofa Bisri ini tak sekedar sebuah peluncuran buku puisi biasa. Tak sekedar berbicara mengenai puisi sebagai sebuah karya seni yang (tentunya) sarat akan berbagai keindahan kata-kata. Melainkan menjadi sebuah acara obrolan, tentang berbagai fenomena sosial dan politik Indonesia.

Di awal obrolan, saya sempat termangu karena ternyata saya salah menduga arah pembicaraan. Namun seiring dengan perjalanan obrolan, saya merasa cukup nyaman untuk terus mengikuti acara ini. Bahkan menurut saya, acara yang dihadiri Sitok Srengenge, dan beberapa kalangan seniman dan budayawan ini, justru lebih ‘menarik’ daripada yang ada di bayangan saya sebelumnya. Karena disini, yang disoroti tidak sekedar tentang puisi dan segala tetek bengeknya. Namun ‘lebih’ daripada itu. Yakni, sebuah realita sosial yang selama ini menghimpit keseharian kita.

Dalam dialog yang dimoderatori penyair Beno Siang Pamungkas ini, Timur mengungkapkan bagaimana benaknya terus bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin negeri lebih bisa bisa tersentuh hatinya ketika menikmati sebuah film yang berada di luar batas realitas. Namun begitu menghadapi kenyataan derita yang sesungguhnya, hati mereka seakan beku tanpa ekspresi. Ada apa ini? Sebuah pertanyaan yang terus mengiang-ngiang. Ditambah lagi, ketika menemukan berbagai fakta tentang berbagai kemorat-maritan bangsa belakangan ini. Seperti kasus banyaknya orang tua, yang begitu tega membunuh buah hatinya sendiri. Sementara pada tahun 1981 lalu, hanya ada 1 kasus penganiayaan oleh orang tua kepada anak. Yakni kasus Ari Hanggara yang demikian melegenda. Ada apa ini sebenarnya?

Pada kesempatan yang sama, Timur juga menyayangkan berbagai macam statement yang dikeluarkan beberapa diantara kalangan budayawan dan tokoh masyarakat kita. Diantaranya, WS Rendra dan Permadi. Yang seringkali berbicara mengenai Kalatidha dan Kalabendhu, serta tak henti-hentinya menyitir ramalan Jayabaya tentan jaman edan. Pandangan semacam itu, menurut Timur benar-benar sebuah pemahaman yang menyesatkan. Dimana, seakan segala macam bencana yang ada di sekitar kita, adalah satu hal yang memang sudah ‘seharusnya’ terjadi dari sananya. Timur menyebutnya sebagai sebuah kesalahan berpikir. Sebuah pandangan ‘mistisis yang kewalik-walik’. Yang akan menghilangkan daya hidup seseorang. Bagi Timur, tanah longsor bukanlah murka tuhan. Melainkan sebagai sebuah dampak dari apa yang manusia lakukan. Tanah longsor tidak akan pernah terjadi, jika manusia menjaga hutan dan tidak menebangi pohon-pohonnya.

Seperti ‘kesalahan’ Jesus ketika berdiri di detik-detik akhir penyaliban, yang berkata, ‘Oh Tuhan.., kenapa kau meninggalkanku…’, demikianlah kesalahan manusia-manusia semacam ini. Yang menganggap, bahwa tuhan meninggalkannya dengan menimpakan berbagai bencana. Karena menurut Timur, tuhan sebenarnya sama sekali tak pernah benar-benar berpaling. Segala macam bencana yang belakangan ini menimpa, adalah ‘hasil’ atas apa yang kita lakukan sendiri. Bukan murka tuhan.

Mengenai pilkada, Timur mempunyai sebuah pendapat tersendiri. Baginya pilkada tak pernah berarti penting, ketika calon independen tidak pernah diberi kesempatan untuk turut serta berkompetisi. Sementara Gus Mus berargumen, pilkada belakangan ini hanya berarti penting 'bagi para tim sukses para calon' saja. Namun Timur langsung berkata tegas, ‘TIDAK’, ketika ditanya, apakah jika calon independen dibukakan jalan, dia akan mencalonkan dirinya sebagai martir untuk memperbaiki keadaan ini. Karena sampai kapanpun, Timur akan tetap menjadi seorang Timur. Sang penyair yang akan terus mengeja kahanan. Dan seperti sudah seharusnya, tugas penyair adalah bersyair. Pun juga ketika berusaha mengeja kahanan. Dan selama keadaan masih seperti ini, Timur berkomitmen akan selalu memilih untuk tetap 'tidak memilih'.

Timur juga menambahkan, apa yang selama ini dilakukan rakyat tak lebih dari sebuah representasi sikap para pemimpin mereka. Jika para pemimpin menghalalkan korupsi, tak heran jika rakyat menganggap tindak korupsi sebagai sebuah kewajaran. Ketika pimpinan tak memiliki kepekaan, bagaimana mungkin para jelata akan memilikinya.

Sementara itu, Gus Mus juga menyoroti tentang kerancuan cara berpikir yang belakangan ini terjadi. Bagaimana mungkin, orang yang dituduh sesat justru dipukuli dengan berlindung di balik ayat-ayat suci? Kita tidak akan pernah benar-benar bisa berbicara tentang amar ma’ruf nahi munkar, ketika hati kita didasari oleh kebencian. Orang yang tersesat, harusnya disadarkan bahwa dia itu tersesat. Karena dia itu, salah memilih jalan untuk menuju tujuan. Bukannya justru digebuki dan dipukuli. Siapakah sebenarnya yang sesat, ketika ada orang dari luar kota yang salah memilih jalan untuk menuju sebuah tujuan, namun bukannya diberi tahu jalan yang benar, namun justru ditempelengi? Siapa sebenarnya yang sesat?

Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba ada peserta dialog yang menanyakan sebuah pertanyaan menarik. ‘Apakah puisi bisa merubah keadaan dan manusia? Sehingga Timur rela bercapek-capek ria menulis puisi untuk ‘sekedar’ mengeja keadaan?’ Menanggapi pertanyaan ini, Timur berkata ‘bisa’. Dengan catatan, dalam skala tertentu. Toh dia bisa mengenal wanita yang sekarang menjadi ibu dari dua anaknya, juga karena puisi. Sebuah komentar yang memancing tawa para peserta dialog. Sekaligus sebagai sebuah jawaban. Bahwa merubah keadaan, tidak harus berarti merubah sesuatu yang besar. Karena itu, bukan tanggung jawab seorang penyair. Tanggung jawab penyair, hanya sekedar bersyair. Dan karena tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang sia-sia, demikian juga dengan seorang Timur. Yang tak mungkin menciptakan sesuatu, untuk kesia-siaan belaka.

Dan ketika berbicara mengenai spiritualitas, Gus Mus secara terus terang menyatakan keheranannya. Karena saat ini, demikian banyak ‘perusahaan spiritual’ yang menjadi lahan bisnis beromzet milyaran rupiah. Menurutnya, kehadiran perusahaan-perusahaan semacam ESQ dan sebagainya itu, amat sangat mengherankan. Entahlah. Saya sendiri juga tak jarang 'menanyakan hal tersebut. Apakah (kalau boleh berburuk sangka) ini adalah suatu usaha sebagian orang yang memanfaatkan keadaan, atau justru sebaliknya. Konsumen membeli, karena ada produsen yang menjual? (Sekali lagi) entahlah. Namun jika saya boleh berspekulasi, kelangkaan ‘tuhan’ di masing-masing jiwa manusia-lah, yang membuat perusahaan semacam ini laris manis di pasaran.

Timur juga mengkritisi wacana yang mengatakan bahwa 'jawa' akan bisa menjadi pemimpin dunia, jika hancur terlebih dulu. Menurutnya itu adalah sebuah wacana yang mengada-ada. Kasus negeri 'jepang' yang sebelumnya ‘kehilangan’ hirosima dan nagasaki sebelum berjaya, tidak bisa dijadikan patokan. Pemikiran yang seringkali diungkapkan Emha Ainun Nadjib itu, melemahkan daya juang kita sebagai manusia. Karena memang selama ini, jawa sama sekali tidak ada indikasi untuk menuju ke sana. Tidak ada satupun fakta, yang bisa dijadikan indikator bahwa jawa 'akan' memimpin dunia.

Begitulah. Dialog peluncuran puisi ini meluncur menjadi sebuah pembicaraan yang kompleks, gado-gado dan terkesan riuh rendah. Namun menurut saya, hal ini amat bisa dimaklumi. (Bagaimana mungkin, dalam kondisi sekarang ini, kita bisa berbicara tentang Indonesia tanpa sebuah keriuh rendah-an?) Disini tidak hanya dibicarakan tentang keindahan kata-kata semata. Melainkan, juga bicara tentang sosial politik Indonesia, dan kebangsaan. Sebuah simbiosis yang indah, antara seni dan politik. Hal ini mengingatkan saya akan ontran-ontran di kalangan seniman beberapa puluh tahun lalu. Dimana terjadi pro kontra tentang pandangan seniman berbasis Lekra, yang menyatakan 'politik sebagai panglima'. Sementara pihak yang berseberangan menganggap, seni seharusnya mempunyai kawasan otonomi sendiri. Yang tidak selamanya berbasis kerakyatan. Lalu, apakah Timur bisa dikategorikan sebagai seniman yang masuk salah satu di antara dua golongan tersebut? Itu adalah satu hal yang tak begitu penting lagi untuk dicari. Karena menurut Timur, hanya satu hal yang pasti saat ini. Baginya, Sihir Cinta hanyalah sebuah langkah awal, sebelum nanti akan dilanjutkan dengan 'gerakan-gerakan' selanjutnya.

Kita tunggu saja…

Senin, 05 Mei 2008

PEMBELAAN TIMUR TERHADAP perempuan

Mempublikasikan Posting

rinduHamidah

Pertunjukan Seni Baca Puisi

Timur Sinar Suprabana di Tegal


DEWAN Kesenian Tegal bersama Akademi Kebudayaan Tegal dan Rumah Budaya Gubug Penceng terpastikan hendak menggelar pertunjukan seni baca puisi oleh penyair utama terpenting Semarang Timur Sinar Suprabana.

Menurut H. M. Enthieh Mudakir, penanggungjawab kegiatan, pertunjukan bertajuk Rindu Hamidah itu akan berlangsung Minggu (4/5) jam 19.30 – 21.30 di Gedung Kesenian Tegal jalan Setiabudi nomor 163 Kota Tegal. “Pertunjukan ini merupakan ruang untuk menyuarakan puisi-puisi perlawanan Timur terhadap diskriminasi, penindasan, tindak kekerasan dan aniaya terhadap perempuan yang masih saja terjadi di negeri ini,” ujar Enthieh. “Sekaligus menjadi ruang kampanye cinta oleh penyair sihirCinta itu.” tegas Enthieh.

Minggu, 16 Maret 2008

pertemuan SAJAKSAJAK timur sinar suprabana DAN handry tm




AKHIRNYA, SETELAH PERNAH SALING SEMPAT BERTANYA, "PERLUKAH?", timur sinar suprabana dan handry tm memutuskan untuk dengan sepenuhnya sadar memastikan, "perlu!", dengan tanda seru, melahirhadirkan antologi puisi. mereka, yang walau sebagai pribadi boleh dikata cukup intens berkomunikasi; namun memang terbilang jarang terlihat jalan bareng dalam menempuh realisasi kerja kreatif. keduanya, handry tm ataupun timur sinar suprabana, terserah mana yang orang ingin lebih dahulu sebut, sejak tahun delapanpuluhan hingga kini memang memiliki realitas kreatif masing-masing. seperti rel: hanya tampak ketemu ketika orang, atau tegaskanlah anda, memandang mereka dari jauh. bulan ini, maret 2008, tiba-tiba, benar-benar tiba-tiba, mereka mendadak mengumumkan pada publik sastra untuk selekasnya menghadirkan kumpulan puisi. STAMBOEL MAEN MATA. begitu, kata handry tm, mengenai dan tentang judul antologi itu. barangkali, atau setidaknya yang diharap timur sinar suprabana, buku yang bakal diterbitkan oleh rumah budaya gubuGPenceng itu bisa menjadi penting sebagai perwujutan jejak karya, syukur tonggak, di semarang.
antologi yang diproyeksikan terbit paling lambat juni 2008 itu, akan memuat sekurang-kurangnya 60 puisi dari masing-masing penyair. mereka mencoba pula membujuk sitok srengenge untuk bersedia menjadi editor dan meminta, dengan hormat, pada agus maladi irianto untuk menulis pengantar buku. jadi? catat dan tunggu penerbitannya. TAGIH KALAU TAK KUNJUNG DILUNASKAN! tagih melalui gubugpenceng@gmail.com

Senin, 10 Maret 2008

WISNU KESAWA MENULIS

Jalan Sunyi Kepenyairan

  • Oleh Wisnu Kisawa


TIMUR Sinar Suprabana mengucap lirih, tetapi penuh irama, sampun Dalu. Lalu, dia terus berucap sembari menyibakkan rambut, lalu menoleh perlahan. Ah, sungguh, tingkah itu tak kalah manis dari puisinya.


Timur membaca sajak itu di
Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Senin (25/2) malam. Sajak-sajak itu terangkum dalam antologi Langit Semarang. Itulah antologi yang ditawarkan untuk dibicarakan dalam srawung sastra dengan pelaku dan penggemar sastra di Solo.


Dia tak sendirian. Ada
Handry TM, Beno Siang Pamungkas, Soekamto, dan Adin. Ada puluhan puisi dalam antologi itu, termasuk sajak sampun Dalu karya Timur yang didedikasikan untuk Darmanto Jatman.

Puisi-puisi itu dibacakan sang penyair. Dari Timur yang membaca dengan gaya
ritual sampai Beno yang berkesan eksentrik. Dan, taburan estetika puisi pun membuncah di Teater Arena.

Namun, Timur-lah sang master malam itu. ”Saya jadi penyair bukan karena bapak saya penulis dan cerpenis. Namun lebih karena saya memang mau. Dan, ternyata saya bisa,” ujar Timur dalam paras penuh kebahagiaan.

Dengan totalitas terjaga dan kesetiaan, tak aneh jika dia mengganggap puisi bukan sekadar mengarang. Bahkan mungkin bukan sekadar persoalan menulis. Lebih dari itu, kepenyairan telah menyangkut persoalan hidup dan kehidupannya. ”Saya menikmati menjadi penulis (penyair). Ternyata saya bisa hidup dari sana,” ujarnya.

Energi puisi telah memberikan kehidupan kepada Timur. Dalam totalitasnya yang sedemikian, masihkah ada yang menyangsikan jika gerakan tubuhnya pun bagai puisi?

Tak Riil

Namun tunggu dulu. Gunawan Budi Susanto, pembicara diskusi seusai pembacaan, menyatakan meski banyak puisi telah lahir dari para penyair, sejatinya itu tak riil. Sebab, para penyair itu bagai menempuh jalan sunyi. Sendirian, berada di ruang dan waktu yang seolah-olah mandiri.

”Timur terkenal? Iya. Namun, apakah semua hadirin di sini pernah membaca puisinya? Atau, adakah kaum akademisi yang membicarakan karya Timur, Handry, Beno, Soekamto, Slamet Priyatin, atau Adin? Itulah satu indikasi jalan sunyi kepenyairan,” kata dia.

Jangan salah terka. Gunawan tak sedang mempertanyakan, apalagi menyangsikan kesenimanan, para penyair itu. Juga tak sedang menggugat kaum akademisi. Dia justru sedang menikmati kedigdayaan mereka yang tetap tegar dalam kesamaran batas keberadaan. ”Saya anggap mereka ‘orang-orang gila’ karena mau jadi penyair. Itulah yang saya nikmati malam ini. Menikmati jalan sunyi,” ujar dia.

Dan, kedigdayaan para penempuh jalan sunyi itu makin lengkap ketika pembicara lain,
Dwi Susanto, menangkap keunikan puisi-puisi dalam Langit Semarang.

”Teks seperti mengalami otonomi yang membebaskan dari bahasa lisan sang penyair. Dalam teori, pembacaan saya ini dikenal sebagai otonomi semantik,” ujar dosen Fakultas Sastra UNS itu. Ya, malam itu, muncul kenikmatan saat sejenak menyibak jalan sunyi para penyair!

Rabu, 20 Februari 2008

SILAKAN DATANG!


KAMI BERENAM, yakni TIMUR SINAR SUPRABANA, HANDRY TM, BENO SIANG PAMUNGKAS, SOEKAMTO, SLAMET PRIYATIN dan ADIN HISTERIA terjadualkan untuk membacakan sajak-sajak kami di TAMAN BUDAYA JAWA TENGAH (TBJT) SOLO. kalau anda benar berhasrat untuk bisa menemusuai kami, SILAKAN DATANG.
HARI SENIN, 25 FEBRUARI, JAM 19.30, DI TEATER ARENA TBJT SOLO, JALAN IR SUTAMI 57 SOLO.
pementasan kami sekaligus menandai peluncuran ANTOLOGI PUISI langitSemarang. forum juga akan dilengkapkan dengan diskusi bersama GUNAWAN BUDI SUSANTO yang hendak memapar REALITAS PETA KEPENYAIRAN DI SEMARANG.

Minggu, 10 Februari 2008

LAGI..., BAKAL DATANG DARI TIMUR SINAR SUPRABANA!

rinduHamidah

timur sinar suprabana bagai sedang tak tahu bagaimana untuk sepenghelaan nafas saja diam atau mengambil jarak dengan dorongan hasrat untuk gegawe. ketika kumpulan sajaknya sihirCinta sedang naik cetak untuk peluncuran akhir bulan februari atau paling lambat pertengahan maret bulan depan, ia sudah mempersiapkan satu lagi kumpulan sajaknya. rinduHamidah. kumpulan sajak yang memuat 63 sajak timur sinar suprabana dari periode angin Manis.

di luar sihirCinta, pada rentang waktu relatif sama, berproses sejak desember 2007, timur juga sempat berkutat dengan upaya melahirhadirkan langitSemarang.

ini antologi puisi yang memuat sajak-sajak 6 penyair di Semarang yang diterbitkan melalui kerja sama Rumah Budaya gubuGPenceng dan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo.

mereka yang menghadirkan sajak-sajaknya bersama Timur dalam langitSemarang

adalah Handry Tm, Beno Siang Pasmungkas, Soekamto, Slamet Priyatin, dan Adin. penyair di Semarang dari generasi yang berbeda. “antologi ini terjadualkan diluncurkan 25 februari di TBJT Solo,” ujar Timur.

sambil menunggu realisasi peluncuran sihirCinta dan langitSemarang itulah Timur mengerjakan rinduHamidah. sekaligus, bersama Handry TM, suntuk juga merampungkan sampun Dalu. ini cd pembacaan puisi Timur Sinar Suprabana yang diproduseri oleh Handry TM dan didedikasikan untuk sosok yang mereka cintai: Darmanto Jatman.

dari TIMUR dan HANDRY untuk DARMANTO JATMAN


sampun Dalu:


memuat keelokan


pembacaan puisi


Timur Sinar Suprabana


Catatan: Rachel Oz

rachel_oz.gmail.com



ORANG-ORANG yang mengenal Timur Sinar Suprabana, dalam kapasitas Timur sebagai pribadi ataupun terlebih sebagai pekerja seni yang tangguh, pasti tak akan pernah mempertanyakan ulang kebenaran dari bahwa Timur adalah salah satu dari sangat sedikit aktor pertunjukan seni baca puisi di Indonesia.

Bahkan, selain Rendra, harus saya catat bahwa memang hanya Timur yang masih mempertahankan kemurnian darah pertunjukan seni baca puisi. Ialah pertunjukan seni baca puisi yang sepenuh-penuhnya mengandalkan pendistribusian keberadaannya, dengan tanpa bantuan atributik artistik apapun; iringan musik misalnya, ~kecuali setting panggung~. Maka tiap kali berkesempatan menyaksikan Timur baca puisi, pada saat itulah saya ~dan tentu saja juga penikmat lain~ merasa tengah menyaksikan kesatuan badan, tubuh, diri dan jiwa sedang membaca puisi.Mungkin tidak terlalu menghibur, namun selalu terasa menggetarkan.

Dengan disemangati kawan baik yang dalam beberapa tahun terakhir meningkat derajatnya menjadi sahabat baik, Handry TM, sastrawan dan penyair yang kini tercatat sebagai salah satu kreator dan pakar bidang pengerjaan media massa cetak ~sebagaimana Arswendo Atmowiloto~, Timur Sinar Suprabana diam-diam berproses melahir-hadirkan CD Pembacaan Puisi. Karya independen kreatif bertajuk sampun Dalu itu memuat belasan pembacaan puisi oleh penyairnya. Timur Sinar Suprabana. Dan, sebagaimana penampilan Timur di panggung, kehadiran Timur di karya menarik ini juga tidak bertumpu pada niatan menghibur. Melainkan, setidaknya menurut saya, lebih ditenagai oleh hasrat untuk menggetarkan pendengarnya. Di titik ini, percayalah, Timur benar-benar berhasil! Anda bisa membuktikannya dengan membeli dan mendengarkan cd ini selepas peluncuran resminya. Maret 2008.


Untuk Darmanto Jatman

Macam bagaimana puisi-puisi yang dibacakan Timur di sampun Dalu, tentu sangat mudah terpastikan. Ialah puisi-puisi Cinta. Puisi-puisi mengenai dan tentang cinta, mencintai, dicintai, kecintaan, bercinta dan apapun yang termungkinkan ~atau bahkan selalu harus pasti~Darmanto Jatman. Salah satu penyair sepuh utama terpenting Indonesia saat ini selain Rendra, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. berkait-paut dengan cinta. Bagi saya, yang mengejutkan justru adalah karya yang diproduseri oleh Handry TM itu didedikasikan untuk

Timur, siapapun yang mengenalnya tahu, bukan sosok yang memiliki kedekatan pribadi dengan orang yang biasa ia panggil Oom Dar itu. Dan, bagi Darmanto Jatman, barangkali keberadaan Timur hanya diapresiasi sebatas cah kurang ajar sing ora isa diatur. Ketika bahwa karya sepenting ini, bagi Timur, didedikasikan untuk Darmanto Jatman tidak berlebihan kalau saya penasaran dan bertanya, “Mengapa?”

Jawaban Timur betul-betul menggetarkan simpul keharuan saya, “Kerna sesungguhnya saya sangat mencintai Oom Dar. Barangkali, soal betapa bahwa aku mencintainya dan bagaimana caraku mencintainya, sungguh mung Gusti Allah sing isa ngerti lan faham.” Soal lain, ujar Timur, “Mumpung isih kumanan, saya memang pengin menyematkan sesuatu untuk Oom Dar. Dan sesuatu itu ya cd ini. Yang saya garap dengan dorongan Handry TM. Harap tahu, dalam soal mencintai Oom Dar, kawan Handry TM ini luar biasa betul. Ia, menurutku, mencintai Darmanto Jatman sampai ke taraf menjelma menjadi cinta itu sendiri... Lha yen aku...? Mung sak dermo mencintainya.

Rachel Oz, tinggal di Bandung.


sihirCinta, kumpulan sajak timur sinar suprabana



sudah lama aku ingin, Sangat!, berharap bisa memberi Kalian, sesuatu, apa atau apa sebagai tanda bahwa aku, timur sinar suprabana, sebagai penyair dan terutama sebagai sesama manusia: mencintai Kalian.

bermula dari menurutkan hasrat ini, yang dari hari ke hari makin dan kian menguat, akhirnya kucoba teguhkan untuk memberi Kalian yang aku paling punya banyak. turah-turah. Puisi.

maka, sendiri, dengan asyik dan khidmad, kuhimpun mereka, Puisi Puisi itu, dalam satu buku bernama sihirCinta. buku yang diterbitkan oleh dewan kesenian semarang bersama rumah budaya gubuGPenceng.

ia, sihirCinta, termungkinkan lahir dan hadir ke Kalian, bukan tak mustahil sebelum tanggal 25 februari 2008, juga antara lain berkat energi kawan soekamto yang dalam kapasitasnya sebagai sekretaris dewan kesenian semarang ataupun sebagai penyair dan pribadi bersedia repot ngupakara kemungkinan mewujudkan buku yang memuat lebih dari 100 Puisi itu.

selain soekamto ada kawan baik lain, daniel hakiki, yang dengan serius namun sabar menangani proses pracetak langsung dari kamar kerja saya. kamar di mana Gusti Allah terCinta tak pernah sedetikpun mingser untuk melimpahruahkan berkahNya terhadapku bersama istri dan dua putri kandung kami.

dari kamar yang penghuninya senantiasa diberkatiNya itu pula saya juga memilih satu dari belasan lukisan, work on paper, kawan baik markaban yang menjadi koleksi pribadi saya untuk kemudian saya scan dan saya tetapkan sebagai sampul depan sihirCinta.

terhadap mereka, sungguh tak tahu diri kalau saya tak menyampaikan pengucapan Terimakasih dengan T besar.

apresiasilah sihirCinta sebagai tanda, bahwa aku mencintai Kalian. bahkan Kalian yang sebelum ini tak kukenal dan tak pula mengenalku.


salam.


Sabtu, 09 Februari 2008

langit semarang, antologi dari 6 penyair di semarang


Kami, Rumah Budaya gubuGPenceng melalui kerja sama dengan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, menerbitkan antologi puisi enam penyair Semarang. Buku setebal seratusan halaman itu memuat masing-masing belasan puisi karya Timur Sinar Suprabana, Handry TM, Beno Siang Pamungkas, Soekamto, Slamet Priyatin dan Adin.

langit Semarang, antologi puisi itu, lahir dan hadir nyaris tanpa pretensi apa-apa selain sebagai upaya untuk menandai dan mendokumentasikan salah satu dari beberapa lingkar kepenyairan di Semarang. Kota yang hampir tidak memiliki kebanggaan apapun selain kapasitas utama terpentingnya sebagai Ibu Kota dari Provinsi Jawa Tengah.

Buku dengan proses pra cetak dikerjakan oleh Daniel Hakiki dengan gambar sampul depan dan belakang oleh Markaban itu dijadualkan hendak diluncurkan di TBJT Solo dengan dilengkapkan pembacaan puisi oleh para penyairnya pada tanggal 25 Februari 2008.

KAMI

kami, Rumah Budaya gubuGPenceng, lahir dan hadir dari gagasan r. soedjono satijopoetro, timur sinar suprabana, dan ompong kuswanto. pada awalnya kami merasa dan percaya bahwa gubuGPenceng akan sanggup mengukuhkan keberadaannya sebagai ruang atau bahkan institusi yang memungkinkan menjadi titik awal gorong-gorong pelepasan dari hajat berkesenian dan berkebudayaan di semarang. sayangnya, apa boleh buat, setelah pada tahun pertama eksistensinya, 2001-2002, sempat menyelenggarakan orasi budaya rendra dan beberapa diskusi budaya dengan pembicara setiawan jodhi, rumah budaya bukan saja nyaris lenyap tetapi benar-benar lenyap.

barangkali gubuGPenceng akan sepenuhnya terhapus dari realitas keberadaannya andai saja timur sinar suprabana, tanpa r. soedjono satijopoetro ataupun ompong kuswanto, tidak memudian memutuskan untuk kembali menghadirkannya dan mulai berkegiatan secara mandiri, cerdas dan luhur dengan bendera gubuGPenceng.

sebagai awal, mulai januari 2008, rumah budaya gubuGPenceng melalui kerja sama dengan dewan kesenian semarang dan galeri seni lukis bua atie menyelenggarakan Bedah Konsep. forum diskusi seni rupa dan pembacaan sajak serta telaah kritis dengan menghadirkan markaban dan martin suryajaya sebagai pembicara serta timur sinar suprabana sebagai pembaca sajak.

dari titik ini gubuGPenceng melalui kerja sama dengan beberapa fihak sudah mengantongi beberapa aktivitas cerdas yang siap digulirkan. antara lain, penerbitan buku kumpulan puisi timur sinar suprabana, sihirCinta, bersama dewan kesenian semarang. buku antologi puisi timur sinar suprabana, handry tm, beno siang pamungkas, soekamto, slamet priyatin dan adin. buku antologi bertajuk langitSemarang itu diterbitkan melalui kerjasama dengan taman budaya jawa tengah surakarta. di luar dua kegiatan tersebut gubuGPenceng juga sedang memproduksi cd pembacaan puisi oleh timur sinar suprabana, yakni dengan Cinta, yang diproduseri oleh penyair handry tm dan didedikasikan untuk penyair darmanto jatman.

kami, bersama siapapun dan fihak manapun yang secara permanen ataupun temporer bersama kami, masih akan terus lebih lagi Bergerak dengan B besar. bergerak dari hari ke hari menuju Hati! mencoba memberi tanda dan makna pada ruang-ruang kreatif di semarang. kota yang nyaris tak memiliki nilai lebih selain fakta bahwa ia adalah ibu kota propinsi jawa tengah!


timur sinar suprabana.