
Luar biasa, Dekase terbitkan empat kumpulan puisi!
LUAR BIASA! Untuk kali yang pertama di sepanjang sejarah keberadaannya, baru ini kali Dewan Kesenian Semarang (Dekase) berhasil membuktikan manfaat keberadaannya sebagai fasilitator kerja berkesenian, teristimewa seni sastra. Ini terjadi ketika Dekase, di bawah kepemimpinan Marco Marnadi SH, secara mengesankan dan mengejutkan berhasil menerbitkan sekaligus empat buku kumpulan puisi dalam rentang waktu relatif singkat. Hanya satu semester, enam bulan, terhitung sejak Januari 2008.
Kumpulan puisi pertama, yang memperoleh apresiasi bagus dalam skala nasional, adalah sihir Cinta. Kumpulan puisi yang memuat lebih dari seratus puisi terpilih karya penyair utama terpenting di Semarang, Timur Sinar Suprabana. “Buku ini diterbitkan melalui kerjasama dengan Rumah Budaya Gubug Penceng yang selama ini dikelola oleh Timur Sinar Suprabana,” ujar Soekamto, sekretaris Dekase, yang bersama Marco Marnadi mengambil peran terdepan dalam upaya menerbitkan sihir Cinta. “Kumpulan puisi dengan gambar sampul lukisan karya Markaban itu, menurut saya, merupakan salah satu kumpulan puisi yang dicetak dalam format termasuk mewah,” katanya menambahkan. Tetapi, menurut Soekamto yang juga dikenal sebagai aktot teater dan penyair itu, nilai pentingnya bukan terletak pada format mewah itu. “Buku itu menjadi penting karena merupakan wujud nyata dari adanya realisasi proses kerja kreatif berkesusastraan yang dilakukan oleh penyairnya,” tegasnya.
Dalam waktu sebulan sesudah menerbitkan sihir Cinta, melalui kerja sama dengan Rumah Budaya Gubug Penceng dan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Solo, Dekase kembali menerbitkan kumpulan puisi bertajuk langit Semarang. Buku kumpulan puisi yang juga berhias gambar sampul lukisan Markaban itu, sebagaimana dinyatakan oleh Timur Sinar Suprabana, memuat puisi-puisi karya Adin Histeria, Slamet Priyatin, Soekamto, Beno Siang Pamungkas, Handry TM dan Timur Sinar Suprabana. “Ini merupakan kumpulan puisi yang secara eksplisit cukup merepresentasikan macam bagaimana wajah kepenyairan di Semaranglangit Semarang. Mereka selain biasa mempublikasikan karya melalui media massa cetak, juga mewartakan realisasi kerja menyairnya lewat blog yang dikelola secara ptibadi. Artinya, Semarang juga memiliki cukup banyak penyair dengan sajak-sajak memukau yang selama ini memberdayakan dunia maya sebagai media ekspresi,” papar Timur. terhitung sejak paruh dasawarsa delapanpuluh,” ujar Timur. “Kendati demikian, tentu saja bahwa penyair di Semarang sangat bukan hanya kami berenam ini yang patut dicatat dalam peta syair-menyair di kota tanpa identitas jelas ini,” kata Timur mengingatkan. “Masih ada lebih dari tigapuluh penyair di Semarang selain yang puisi-puisinya terhimpun dalam
Bulan Pecah
Menerbitkan sihir Cinta (02/2008) dan disusul kemudian dengan langit Semarang (04/2008), sebagaimana dinyatakan oleh Marco Marnadi, ketua Dekase, hanya merupakan kerja awal. “Sesudah dua kumpulan puisi itu kami kembali menerbitkan kumpulan tunggal puisi dan kumpulan yang memuat sekaligus beberapa karya penyair di Semarang dari generasi terkini,” kata Marco.
Kumpulan yang dimaksud adalah Bulan Pecah terbit Juni 2008 yang memuat lebih dari seratus sajak pilihan karya Soekamto. Menyusul kemudian munculnya Aku Ingin Mengirim Hujan yang terbit awal bulan Juli. “Kumpulan puisi Aku Ingin Mengirim Hujan ini merupakan buku puisi yang memuat karya dari puluhan penyair generasi muda di Semarang,” jelas Marco. “Artinya, Aku Ingin Mengirim Hujan juga merupakan semacam etalase yang memungkinkan masyarakat peminat dan pemerhati sastra, khususnya puisi, untuk lebih mengetahui realitas kepenyairan dari generasi terkini yang ada di Semarang, Ialah generasi yang masih memungkinkan untuk makin berkembang di kemudian hari,” kata Marco menambahkan. “Kumpulan puisi penyair pemula ini terbit dengan melibatkan komunitas pekerja seni Komunitasku yang juga dikelola oleh pencinta seni dari generasi terkini. Anak-anak muda dengan usia di bawah tigapuluh tahun,” tegasnya.
Secara khusus patut pula disebutkan di sini, bahwa Bulan Pecah secara tak terduga menjadi kumpulan sajak yang “lengkap” tidak saja untuk mencermati kepenyairan Soekamto, tetapi juga untuk “menyerap” macam bagaimana pengamat sastra dalam mengapresiasi realitas berkesusastraan di Semarang. Pengantar yang ditulis oleh Agus Maladi Irianto untuk Bulan Pecah, sangat menjelaskan dan bahkan menegaskan; bahwa Semarang memang tak memiliki akar tradisi berkesusastraan yang kuat. Maka Bulan Pecah dan juga tiga buku lain terbitan Dekase, barangkali bisa menjadi awal mula lahir-hadirnya tradisi yang endah dan edhi peni itu. Mengapa tidak? Sebab, sebagaimana yang ditegaskan oleh Triyanto Triwikromo dalam catatan kritis untuk Bulan Pecah, “dunia puisi” bisa juga hadir sebagai “dunia sederhana”. Ialah sebuah dunia yang tak dipercanggih dan diperumit dengan sirkus kata-kata!
Patut di ketengahkan di sini, bahwa kinerja Dekase di bawah pimpinan Marco Marnadi juga memperoleh apresiasi patut dipujikan dari “orang luar”. Setidaknya, sebagaimana diungkap oleh Sunu, ketua Forum Wartawan Provinsi Jawa Tengah, kinerja Dekase di bawah kepemimpinan Marco layak diacungi jempol. “Masalahnya, setelah sanggup menerbitkan, bagaimana mempopulerkan apa yang sudah diterbitkan itu,” ujar Sunu yang juga memprakarsai peluncuran sihir Cinta karya Timur Sinar Suprabana dengan pembicara utama KH Mustofa Bisri (Gus Mus) beberapa waktu lalu..
Kesemua bukti realisasi faedah keberadaan Dekase itu, sebagaimana dinyatakan Soekamto sebagai sekretaris Dekase, akan digulirkan melalui event khusus yang terjadualkan pada hari Jum’at (11/07) mulai jam 19.00 di Teater Arena Taman Budaya Raden Saleh, Jalan Sriwijaya Semarang. Forum terbuka untuk umum secara cuma-cuma. (wiwik-mc-wawasan)






